Penjelajah Alam dan Budaya Bojonegoro

Rasanya senang bisa ikut berpetualang bersama crew televisi! Kali ini petualangan yang saya ikuti adalah menjelajahi alam dan budaya yang ada di Bojonegoro. Pasti masih bertanya koq bisa sih? Ya bisa lah kan saya menontonnya di televisi di acara JELAJAH Trans Tv , Minggu pkl 08.00 pagi lalu saya mencatatnya sebagai review dari tayangan tersebut. Ya mudahan-mudahan saja saya beneran bisa jalan-jalan bersama mereka berpetualangan menjelajahi alam dan budaya Indonesia. Namanya juga berharap selalu saja ada kemungkinan , ya kan?? ^.^

Tayangan perjalanan JELAJAH, diawali dengan meliput sebuah sungai yang terpanjang di Pulau Jawa yang juga membelah Kota Solo. Dengan sebuah gethek yang tebuat dari rakitan bambu, diceritakan sedikit sebuah sejarah tentang kisah seorang yang bernama Jaka Tingkir. Ia pernah melewati sungai Bengawan Solo ini menuju Demak. Namun, ditengah perjalanan ia dihadang oleh beberapa ekor buaya. Jaka Tingkir berhasil mengalah buaya – buaya tersebut dan dengan lancar berhasil memasuki Demak sehingga dapat menduduki tahta Demak. Sungai Bengawan Solo mempunyai dua hulu yakni di Wonogiri dan Ponorogo. Aliran sungainya menghidupi warga yang berada disekitarnya. Saat ini sudah mulai dirintis transportasi sungai dengan menggunakan gethek untuk menyusuri sungan sepanjang 548 KM.

Ada yang khas dari sebuah desa Sukoharjo yang dilewati sungai Bengawan Solo, yakni sebuah makanan khasnya. Namanya Jenanggununggudel, unik ya namanya.Pembuatannya pun masih tradisional dan menggunakan tenaga manusia. Jenanggununggudel itu seperti dodol. Bedanya dengan jenang atau dodol umumnya karena bahan dasarnya yang terbuat dari ketan. Selain itu kalau dimakan terasa kasar dan rasanya manis , oleh sebab itu orang sana menyebutnya Krasian. Cara pembuatannya adalah kelapa , beras dan gula merah ketiganya dimasak selama tiga jam lamanya. Sedangkan ketan , bahan dasar jenang ini disangrai atau digoreng tanpa minyak, selama 10 menit lalu digiling kasar. Setelah itu dimasak selama 30 menit kemudian dicampurkan dengan adonan kelapa, beras dan gula merah yang sudah dimasak sebelumnya diaduk hingga mengental. Kemudian jenang ini dibungkus plastik untuk dijual sebagai oleh-oleh. Harganya berkisar Rp 10.000 – Rp 20.000.
samin bojonegoro
Lain halnya ketika berada disebuah desa Margomulyo, Bojonegoro yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Disana terdapat sebuah desa yang bernama Desa Samin. Karena letaknya yang masih dikelilingi hutan seluas 740H dahulu digunakan sebagai tempat persembuyian tentara Jepang. Ada yang menyebut Desa Samin adalah sebuah kelompok suku. Menurut sejarahnya desa ini adalah tempat seorang yang dihormati bersama pengikutnya bernama Raden Kohar. Kemudian ia mengganti namanya menjadi Samin Suro Santiko, agar bisa lebih dekat dengan wong cilik. Ia memegang teguh prinsip hidupnya yang jujur, polos tetapi juga kritis ketika menghadapi penjajahan. Bentuk perlawanannya adalah dengan tidak membayar pajak! Adalah Mbah Harjo yang hanya dapat berbicara dalam bahasa Jawa , merupakan generasi keempatnya. Pakaian yang dikenakan Mbah Harjo pun sangat unik yakni dengan memakai ikat kepala warna hitam, baju hitam dan celana sebatas lutut berwarna hitam juga. Uniknya , jika ada tamu yang datang, tidak diperkenankan minum memakai gelas melainkan menegak langsung dari kendi.

Kalau di Sukoharjo ada pembuatan jenang, nah di desa Margomulyo ini ada juga sebuah tradisi turun temurun yakni pandai besi atau yang disebut Mandey. Alat-alat pertanian seperti cangkul dan arit dibuat sendiri. Bahannya terbuat dari baja. Untuk proses tempa dan pembakarannya membutuhkan waktu 45 menit. Sebelumnya baja tersebut di sepuh dahulu kemudian dikikir diasah sampai tajam. Lambat laun kerajinan ini mendatangkan penghasilan sendiri bagi warga sebab dapat dijual juga dengan kisaran harga Rp 25.000 – Rp 50.000 sesuai ukuran. Kekayaan alam yang lain dan masih tersimpan di Bojonegoro adalah sebuah sumber gas buminya. Wah, ternyata disebuah tempat yang jauhnya 21 km dari kota terdapat sumber api abadi yang menurut seorang peneliti dari Inggris , karangan api ini terbesar se Asia Tenggara! Bahkan sudah ada jauh sebelum berdirinya kerajaan Majapahit. Di tempat tersebut juga pernah digunakan seorang Mpu sebagai tempat pertapaan. Keren banget kan??
minyak wonocolo
Selain sumber alam gas bumi terdapat juga sumber minyak buminya! Disebuah desa Wonocolo masih di Bojonegoro, terdapat lokasi penambangan minyak bumi. Sumur-sumur minyak itu adalah peninggalan Belanda. Karena butuh modal yang sangat besar maka warga setempat menjalankan bisnis tambang minyak ini secara berkelompok dan tentu saja dengan alat-alat yang masih tradisional. Setiap orang masuk ke dalam sumur untuk menggali kedalaman sumur hingga 25 meter. Masing-masing orang diberi jatah masuk ke sumur adalah ½ – 1 jam. Wooww… luar biasa! Setelah dirasa cukup kedalamannya, ditanam sebuah pipa untuk memompa minyak keluar. Bisa saja minyak bercampur lumpur dan untuk membersihkannya membutuhkan waktu 2 – 1 tahun. Kalau minyaknya sudah bersih, dibawa ke sebuah tempat godokan tidak jauh dari pertambangan untuk dimasak menjadi minyak tanah atau solar. Beberapa pembeli juga datang dengan membawa jeringen besar , penjualan minyak ini sampai keluar Kabupaten. Tercatat di desa ini, terdapat 74 unit sumur tambang minyak yang masih aktif dengan kapasitas minyak yang dihasilkan adalah 42.000 ltr per harinya. Luar biasa…luar biasa…
minyak tradisional wonocolo
Ternyata, tanpa harus pergi dengan hanya menonton dari televisi, saya dapat melihat tempat-tempat yang unik di setiap daerah. Saya semakin ingin menjelajahi Indonesia dan bisa mendapatkan juga pengalaman yang unik dan mengherankan seperti ini di bumi pertiwi, Indonesia. Selamat Jalan-jalan!

Jakarta, Veronica Setiawati

Baca Juga Dari Penulis

Comments

Loading...