Menuju Internet Sehat, Kreatif dan Produktif

Dulu, hanya ada satu dunia yang menjadi tempat tinggal manusia, yaitu dunia nyata. Namun seiring dengan perkembangan jaman, dunia maya kini telah menjadi dunia ke dua yang bagi sebagian kalangan hampir mengalahkan eksistensi dunia nyata. Dan yang ke tiga adalah dunia lain. Auuu…

Ada hati yang merasa gelisah, yang kegelisahannya melebihi orang yang sedang menanti kabar seorang kekasih yang sudah lama tak memberinya kabar, yaitu saat-saat dimana kita tak bisa terkoneksi dengan internet. Bisa karena kuota habis, bisa juga karena gak ada spot wifi terbuka. Tapi hati siapa yang gelisah itu? “Iya, kamuuu…!” kata Dodit Mulyanto sambil menunjuk ke arahku. Dan sedikit demi sedikit, kita sadari atau tidak, internet telah menjadi candu bagi kita.

Ada yang beli kuota internet puluhan ribu rupiah hanya untuk sekedar membuat status “OTW cintamu”, atau juga begini “Lagi telfonan ama call center”. Ada lagi yang statusnya nakal banget, seperti ini misalnya “Cantik dan tdk cantik itu RASANYA SAMA, cuma semangatnya saja YANG BERBEDA”. Apaan coba? Ya itu sah-sah aja, sih. Itu kuota internet juga kamu beli sendiri, akun juga akunmu sendiri. Fine, tak masalah. Kalau nggak gitu, ada juga yang bikin status hanya untuk menyindir seseorang, biar terlampiaskan emosi. Tanpa disadari yang membaca status itu tidak hanya seseorang yang menjadi target sindiran, tetapi semua yang bertemanan dengan akun kita. Bahaya, hal-hal kecil seperti ini bisa mengganggu stabilitas dunia maya yang bisa saja berimbas pada dunia nyata.

Facebook sebenarnya sudah mengajak kita untuk berinternet sehat. Pertama, di beranda Anda, pada tempat pembuatan status, sudah jelas di sana tertulis Apa yang Anda Pikirkan? Ini berarti Facebook sebenarnya mengajak kita untuk sharing ide atau pemikiran-pemikiran. Betapa indahnya bila tiap status adalah hasil pemikiran-pemikiran positif yang kemudian didiskusikan pada kolom komentar. Facebook tidak bertanya Apa yang Anda rasakan? Tapi kenyataannya banyak status yang isinya adalah ungkapan-ungkapan perasaan.

Dan yang bikin nggak enak hati, terkadang status itu adalah ungkapan kebencian terhadap seseorang ataupun sesuatu yang lain. Orang dulu berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan perasaan benci terhadap orang lain, tapi yang saya amati di media sosial kadang seperti sedang berlomba mengutarakan perasaan seperti itu. Ini tidak sesuai dengan hal positif kedua yang bisa kita ambil dari Facebook berikut ini. Kedua, di Facebook hanya ada menu like, tak ada dislike. Kalaupun ada unlike itu hanya muncul ketika kita sudah memencet tombol like. Itu artinya Facebook mengajak kita untuk menunjukkan rasa suka dan menyembunyikan rasa tidak suka, mengajak kita untuk menunjukkan like dan menyembunyikan dislike. Ini adalah budi pekerti orang jawa yang dipegang erat oleh Facebook.

Bicara tentang internet sehat, kreatif dan produktif, saya jadi teringat degan tulisan AS Laksana yang berjudul Merengek di Zaman yang Serbamudah. Di sana beliau menulis “Pengetahuan-pengetahuan yang sulit didapatkan pada waktu lalu sekarang bisa didapatkan dengan gampang. Itu berarti, jika seseorang memiliki minat untuk meningkatkan diri, di bidang apa pun yang dia sukai, dia memiliki kesempatan dan kemudahan untuk melakukannya.” Sangat senada dengan semangat internet sehat, kreatif dan produktif.

Katakanlah misalnya kita menyukai dunia kerajinan tangan dan ingin mendalami hal tersebut, maka internet akan menjadi sumber belajar yang sangat luas. Ada jutaan artikel yang mengulas tentang kerajinan tangan. Ketika saya mencoba mencari di google dengan keyword “kerajinan tangan”, ada sekitar 2.790.000 artikel yang ditemukan. Maka yang menjadi pondasi awal hanyalah seberapa besar kemauan kita untuk mendalami atau mempelajari sesuatu. Dan taukah¬† Anda, di Bojonegoro ada sebuah komunitas ibu-ibu yang bernama Komunitas Crafter Bojonegoro. Mereka memanfaatkan Facebook untuk mempromosikan karya-karya mereka. Mulai dari bross hijab, jam dinding dari kain flanel, boneka, tempat tissue, dan macam-macam kerajinan lainnya dari bahan flanel. Ini contoh nyata memanfaatkan internet dengan sehat, kreatif dan produktif. Contoh lain adalah saudara saya yang memanfaatkan internet untuk berjualan clodi (cloth diaper). Pada awalnya omsetnya hanyalah ratusan ribu rupiah, tapi karena keuletannya dalam memasarkannya di internet, kini omsetnya sudah mencapai puluhan juta rupiah. Dan kini ia tidak hanya menjual clodi saja, tapi berkembang pada barang-barang kebutuhan bayi lainnya.

Ini hanyalah sebagian kecil uraian tentang cara berinternet sehat, yang cerdas, kreatif dan produktif. Saya yakin, bila Anda sudah memulai untuk melakukannya, pada akhirnya Anda akan lebih “cakep” dari sebelumnya. Maturnuwun.

Baca Juga Dari Penulis

6 Komentar

  1. Yossy Suparyo berkata

    Terimakasih atas inspirasi yang ditularkan lewat tulisan ini. Bacaan bagi mereka yang memulai pengembangan bisnis di internet.

  2. Hanas Caturiansyah berkata

    Sip….
    Ide yang hebat, bermanfaat dan perlu dicoba.
    Makasih banyak.
    Matur nuwun

  3. taufik berkata

    Seharusnya kita semakin pandai, dan menggunakan internet dengan CAKEP seperti untuk jualan via online, buat blog apa aja deh yang penting positif

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.