De Soto Rasa Bojonegoro

Di Jatim, soto umumnya berarti soto Madura atau soto Lamongan. Sementara sate lebih sering berarti sate Madura atau Sate Ponorogo. Tetapi, soto di awal tulisan ini sama sekali tidak mengacu pada salah satu makanan dengan variasi di beberapa daerah. (Saya tidak membahas soto sebagai makanan karena bukan seperti Bondan Winarno).

Soto di tulisan ini ada Hernando De Soto, ekonom yang menulis The Mystery of Capital (september 2000). Dalam buku itu, De Soto menekankan perlunya redistribusi aset, terutama lahan untuk kaum marjinal. Tentu tidak dalam artian Land Reform seperti di kampanyekan PKI. De Soto menyarikan idenya berdasarkan pemikiran Adam Smith tentang aset. Pengikut Adam Smith sulit menjadi pengikut Marx pada saat yang sama.

Di Jatim, ide De Soto pernah coba diterapkan Gubernur periode 1998-2008 Imam Utomo. Imam memperkenalkan sertifikasi lahan agar petani punya agunan  untuk kredit bank. Sayangnya, serangkaian masalah, terutama di birokrasi, menekan program itu.

Tetapi, Bupati Bojonegoro, Suyoto percaya redistribusi aset tetap harus dilakukan. Petani harus punya modal untuk berusaha dan meningkatkan nilai tambah produk pertaniannya. Suyoto percaya, warganya butuh lebih banyak wirausaha untuk bisa menaikkan kekuatan ekonominya.

Pemikiran itu tidak lepas dari fakta di negara lain. Italia bisa menjadi negara maju dengan penduduk santai karena ada satu wirausahawan untuk setiap sembilan penduduk. Sementara di Indonesia rata-rata hanya ada satu wirausaha untuk setiap 80 penduduk. Di Malaysia saja satu wirausaha hanya berbanding dengan 60 penduduk.

Untuk jadi wirausaha butuh modal dan modal sebenarnya bisa didapatkan di bank. “Dari pada saya panggil investor dari luar yang akhirnya pinjam ke bank juga, lebih baik saya bawa warga sini ke bank,” ujarnya. Tahu sertifikasi tidak bisa dipakai lagi, Yoto memilih pola asuransi. Sebagian pinjaman dipakai untuk membayar asuransi pinjaman. Jadi, bank tidak perlu khawatir ada kredit macet karena akan diganti asuransi. Setahun pertama masa pemerintahannya, peternak di Bojonegoro sudah memiliki modal total Rp 180 miliar. Di sektor pertanian sedang antri kredit untuk dikucurkan oleh Bank Jatim.

“Saya kurangi semua program hibah. Masyarakat harus dibiasakan dengan pinjaman yang harus dikembalikan. Itu memacu mereka jadi wirausaha ulet dan tahu risiko kalau tidak bisa bayar cicilan,” ungkap Yoto.

Dengan wirausaha, Yoto ingin warganya mandiri. Karena dia tahu, Exxon yang menyedor minyak di wilayahnya tidak bisa diharapkan menaikkan taraf hidup warga Bojonegoro.

Exxon hanya salah satu korporasi. Dalam film Bond terbaru, Quantum of Solace, korporasi tidak pernah memikirkan kepentingan masyarakat tempat ia berusaha. Korporasi bisa mendukung diktator asal itu melancarkan usahanya. Korporasi bahkan bisa membunuh pimpinan badan intelejen negara untuk memuluskan langkahnya menangguk untung.

By. Krirm

Baca Juga Dari Penulis

Comments

Loading...