Dari Dana Migas, Tiap Siswa Dapat Rp 2 Juta

Belasan Ibu-ibu di Kelurahan Klangon, Kecamatan Kota Bojonegoro, Jawa Timur mengaku girang. Menyusul segera cairnya uang sebesar Rp 2 juta persiswa setingkat Sekolah Menengah Atas/Kejuruan/Aliyah seluruh Kabupaten Bojonegoro tahun 2016 ini.

Data di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bojonegoro, jumlah penerima bantuan siswa setingkat SMA/SMK/Aliyah baik negeri swasta dari kelas satu hingga kelas tiga sebanyak 49.340 jiwa awal Februari 20116 lalu. Tiap siswa-siswi ini akan mendapatkan dana Rp 2 juta perorang. Anggaran ini berasal dari pos Dana Alokasi Khusus Pendidikan yang disisihkan dari bagi hasil minyak dan gas bumi tahun 2016.

Endang,43 tahun, orang tua salah satu penerima dana bantuan, mengaku senang. Pedagang kopi dan jajanan anak ini, mengaku bantuan Rp 2 juta, akan digunakan untuk kebutuhan sekolah. Yaitu Rp 1 juta untuk tabungan dan sisanyauntuk bayar kebutuhan belajar-mengajar anaknya di sebuah SMA Negeri di Bojonegoro.”Ini, rezeki,” ujarnya April 2016 lalu. Dia menambahkan, di kampungnya ada 13 siswa-siswi setingkat SLTA yang dapat bantuan dana pendidikan Rp 2 juta perorang.

Sesuai ketentuan dari Bappeda Bojonegoro, dana Rp 2 juta akan langsung diterima siswa bersangkutan. Dana Rp 2 juta, akan diterima tunai sebesar Rp 1 juta dan sisanya Rp 1 juta langsung dimasukkan ke rekening Bank Daerah Bojonegoro—milik Pemerintah Bojonegoro. Sedangkan proses pencairan dikoordinir lewat Kantor Kelurahan/Desa masing-masing. Tujuannya, Pemerintah menekan angka putus sekolah dari Sekolah Menengah Pertama ke Sekolah Menengah Atas dan sederajat.

Jika merujuk data di bagian Pendidikan Non-Formal dan Formal Dinas Pendidikan Bojonegoro, jumlah penduduk buta huruf tahun 2015—hanya tersisa 1160 orng—umur di bawah 59 tahun. Pemberantasan buta huruf dilakukan kelompok belajar di desa-desa lewat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Dinas Pendidikan Bojonegoro.

Sebagai perbandingan, lima tahun silam, angka buta huruf tahun 2010 lalu, jumlah penduduk buta huruf mencapai 37.687 orang. Dengan rincian produktif antara 16 hingga 44 tahun sebanyak 6.725 orang. Selebihnya berusia antara 44 hingga 65 tahun sebanyak 16.301 orang dan usia di atas 65 tahun sisanya. Daerah yang masuk kategori tinggi angka buta huruf tahun 2010 lalu terbanyak berada di Kecamatan Tambakrejo ada 2445 orang, Kecamatan Malo ada 533 orang. Kecamatan Kedungadem ada 516 orang dan Kecamatan Dander ada 486 orang. Angka ini, tentu saja sudah banyak berubah, seiring program pemberantasan buta huruf lewat pelbagai paket di desa-desa.

Jauh hari sebelumnya, Bupati Bojonegoro Suyoto mengatakan, telah menggagas Dana Abadi Minyak—yaitu sebuah anggaran yang disisihkan dari dana bagi hasil migas. Dana disisihkan di saat Bojonegoro tengah mengalami puncak produksi minyak dari Blok Cepu. Tujuannya, agar ada proses penghematan. Karena, banyak contoh daerah yang kaya minyak dan gas, keuangannya tidak dikelola dengan baik. Akibatnya, ketika sumber minyak dan gas telah habis, daerah jadi miskin lagi. “Kita tidak ingin seperti itu,” ujar Kang Yoto, panggilan Bupati Suyoto.

Menurut Kang Yoto, Pemerintah Bojonegoro dituntut harus kreatif mengatur anggaran dan tata kelola di saat migas menghasilkan uang dalam jumlah besar, dalam kurun 10 hingga 15 tahun ke depan. Lalu, dibentuklah program menyisihkan uang dari dana bagi hasil migas ini. Salah satu sasarannya, dana disalurkan untuk pendidikan. Mendukung terbentuknya generasi emas, yaitu anak-anak berprestasi di Bojonegoro. Membantu anak-anak agar tidak putus sekolah—terutama di jenjang Sekolah Menengah Atas, juga, memberi beasiswa anak-anak cerdas dari keluarga kurang mampu. Mereka ini diberi support untuk meraih jenjang sekolah hingga ke Luar Negeri.

Baca Juga Dari Penulis

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.