Cepu, Diperkosa oleh Bor Perusahaan Asing

Jika wilayah pantai selatan Pulau Jawa disedot pasir besinya, maka di sebelah utaranya pengeboran minyak tercecer dimana-mana. Terdampar di Kabupaten Bojonegoro, bersebelahan langsung dengan Cepu adalah pengalaman yang tidak dapat dilupakan. Bojonegoro memang sebuah daerah yang dikenal karena selalu menjadi langganan banjir setiap tahunnya. Tetapi Cepu, dikenal sebagai tambang minyak bagi perusahaan-perusahaan multinasional. Cepu merupakan sebuah kecamatan di kabupaten Blora, Jawa Tengah. Daerah ini memiliki luas wilayah sekitar 4.897,425 ha, dengan jumlah penduduk sekitar 77.880 jiwa tentu bukan daerah dengan kepadatan yang tinggi. Nama Cepu sebagai sebuah daerah sudah terdengar sejak zaman Panembahan Senopati (Raja Mataram I), tepatnya saat terjadinya perebutan puteri Madiun yang bernama Retno Dumilah. Ada juga kisah penamaan Cepu diambil dalam kisah Aria Penangsang, yaitu pada saat pertempuran antara Jipang Panolan dan Pajang di pinggiran bengawan Solo, alkisah ada seorang prajurit Panolan (ada kisah bukan prajurit biasa melainkan sang Arian Pengangsang sendiri) yang tertancap tombak di pahanya, dalam bahasa Jawa Tancap = nancep, paha = pupu, berasal dari dua kata tersebut maka muncul kata Cepu.

Kegagahan Cepu sirna ketika memasuki masa pembangunan. Dengan slogan pembangunanisme, Cepu menjadi salah satu wilayah sumber minyak terbesar di Indonesia. Parahnya, melimpahnya sumber daya minyak di Cepu ini justru dinikmati oleh perusahaan multinasional. Sebut saja, Mobil Cepu Ltd- anak perusahaan Exxon Mobil Corporation,kini menguasai pengeboran minyak mentah di Sumur Banyuurip, di Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro. Saat ini,produksi minyak mentah di sumur itu sekitar 21.600 barrel per hari. Selain itu,Mobil Cepu Ltd menguasai Sumur Alas Tuwo Barat (ATB) dan Alas Tuwo Timur (ATW) di Kecamatan Dander yang kini masih tahap eksplorasi.

potensi minyak bojonegoroMCL juga sedang mencari potensi emas hitam di Sumur Kedungkeris yang terletak di Kecamatan Kalitidu. Joint Operating Body Pertamina- Petrochina East Java (JOB-PPEJ) menguasai Sumur Sukowati, Blok Tuban, yang terletak di kawasan Kecamatan Kapas dan Kota Bojonegoro.Produksi minyak mentah di Sumur Sukowati itu kini sekitar 8.000 barrel per hari. Di wilayah barat Bojonegoro, ada Pertamina EP yang kini sedang mengebor Sumur Tiung Biru di kawasan Kecamatan Tambakrejo. Namun, potensi minyak mentah di Sumur Tiung Biru ini masih kecil yaitu sekitar 1.300 barrel per hari.

Potensi minyak mentah diperkirakan paling besar terdapat di Sumur Banyuurip, Blok Cepu. Pada saat produksi puncak diperkirakan dapat mencapai 165.000 barrel per hari.Produksi sebanyak itu akan menjadi andalan produksi minyak mentah nasional. Tidak heran, pemerintah pusat terus berupaya menggenjot produksi minyak mentah di ladang ini. Untuk mencapai target puncak produksi,kini pemerintah sedang membangun fasilitas pipa penyaluran minyak mentah dari lokasi pengeboran ke kawasan pantai di Tuban.

kantor exxon bojonegoro

Seperti semut berebut gula, Cepu menjadi lahan yang subur bagi para investor asing di Indonesia. Hasil tidak sebanding justru ditujukan pada pemerintah Indonesia, dari hasil keseluruhan 100% minyak yang didapatkan oleh perusahaan asing, pemerintah Indonesia hanya mendapatkan bagian sebesar 6% saja. Misalnya pada tahun 2009, pemerintah Indonesia hanya mendapatkan Rp.37, 9 Miliyar dari hasil keseluruhan pengeboran minyak di blok Cepu. Pada tahun 2010, Pemerintah Indonesia mendapatkan Rp. 169 Miliyar bagian dari keseluruhan hasil pengeboran minyak di Cepu. Tahun 2011, Indonesia hanya mendapatkan Rp.223 Miliyar. Paradoks ini juga tampak pada penataan kota di Cepu. Penataan ruang yang carut-marut ditambah dengan beberapa fasilitas umum yang tidak terawat dengan baik seolah menutupi keindahan wilayah Cepu. Keindahan Cepu telah dirusak dan diperkosa oleh Bor perusahaan-perusahaan asing, dan dilegitimasi oleh pemerintah Indonesia.

Oleh : Johan Avie

Baca Juga Dari Penulis

Comments

Loading...