Bojonegoro, Dari Buah Bintang Menuju Kota Bintang

Roda pembangunan itu ibarat memanfaatkan sebuah alat timbangan. Selalu ada satuan yang digunakan untuk mengukur dan objek yang diukur. Dan, hasil akhir dari timbangan itu haruslah seimbang. Ya, seimbang. Karena, dengan keseimbangan maka objek yang diukur tersebut baru dapat diakui handal, tepat, dan siap untuk segera dimanfaatkan.

Pemerintah Indonesia menggunakan sistem otonomi daerah sebagai alat timbangan dalam menciptakan kesejahteraan secara merata pada seluruh daerah di Indonesia. Otonomi daerah lahir di penghujung era 90-an. Melalui sistem ini, diharapkan dapat mendorong terciptanya nuansa kemandirian di tiap-tiap daerah.  Dengan kata lain, setiap daerah diharuskan untuk mampu hidup sejahtera di atas kakinya sendiri, dengan usaha mandiri dalam mengembangkan potensi regional yang dimiliki. Tanpa menuntut uluran tangan pemerintah pusat yang sebelumnya hanya terkesan ‘meminta tanpa berusaha’. Dan, satuan ukur yang digunakan tentu saja tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakatnya.

Sama halnya dengan geliat pemerintahan yang tengah berkembang di Bojonegoro, salah satu kabupaten kecil di Jawa Timur yang berusaha untuk menjadi besar dan terkenal. Semenjak Pemerintah Indonesia menyebarkan virus otonomi ke berbagai penjuru daerah, semenjak itulah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro aktif menata dan menumbuhkembangkan potensi kedaerahannya. Baik itu potensi sumber daya alam, maupun potensi sumber daya manusianya.

Saat ini Bojonegoro memang dikenal sebagai daerah penghasil ladang minyak. Tapi sebenarnya, banyak sekali potensi sumber daya alam di Bojonegoro yang patut untuk dikenalkan pada publik secara luas selain itu. Daerah ini memiliki sederet lokasi pariwisata yang menyajikan keunikan sendiri, salah satunya Kawasan Agropolitan Blimbing di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Kawasan ini menjadi sentra bagi para warga sekitar untuk mengembangkan usaha perkebunan buah belimbing atau buah bintang lima.

wisata bojonegoro
Perkebunan buah belimbing di Desa Ngringinrejo sebenarnya sudah ada sejak tahun 1986. Sejak dulu perkebunan buah belimbing ini menjadi tempat ‘jujukan’ pertama para pedagang buah-buahan lokal maupun luar Bojonegoro. Umumnya para pedagang lebih suka membeli di areal perkebunan langsung karena cenderung lebih mudah dalam hal tawar-menawar harga. Perkebunan ini baru dikenal luas sejak akhir tahun 2010, ketika Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menetapkan kawasan Kalitidu sebagai “kawasan agropolitan” dengan komoditi unggulannya berupa buah belimbing (Surat Gubernur No. 520/8821/202.2/2010 tentang Penetapan Kawasan Agropolitan).

Namun, dalam perkembangannya kawasan ini pun belum mampu menarik minat pengunjung dari masyarakat umum secara optimal. Padahal penetapan kawasan agropolitan ini, diharapkan dapat menjadi referensi objek wisata baru yang akan dikunjungi oleh wisatawan dari dalam maupun luar daerah Bojonegoro.  Kawasan ini baru mulai dilirik oleh wisatawan semenjak Bendungan Gerak yang terletak di Kecamatan Kalitidu hingga Kecamatan Trucuk diresmikan. Tepatnya pada tanggal 2 Mei 2012, diresmikan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa, dengan disaksikan Wakil Gubernur Jatim Syafullah Yusuf dan Bupati Bojonegoro Suyoto. Bendungan Gerak dioperasikan untuk mengendalikan debit air sungai Bengawan Solo yang seringkali meluap saat musim penghujan, agar dapat dialirkan menuju area-area persawahan di sekitar aliran bendungan tersebut.

Bendungan Gerak memang menjadi ikon tempat wisata baru di daerah Bojonegoro. Kawasannya yang asri, berudara segar, dengan sajian panorama alam yang masih alami, mengundang minat muda-mudi untuk sekedar mampir atau menghabiskan waktu di sana. Lokasi Bendungan Gerak berdekatan dengan perkebunan belimbing, keduanya berada di satu jalur yang sama di Desa Ngringinrejo. Sehingga secara tidak langsung, keberadaan Bendungan Gerak juga berpengaruh positif bagi peningkatan jumlah pengunjung di perkebunan belimbing.

Sebenarnya tidak ada syarat khusus jika pengunjung ingin masuk ke kebun belimbing ini. Karena memang setiap pengunjung tidak dikenakan tarif tiket masuk ke area perkebunan. Para pengunjung pun diberi kebebasan untuk memetik sendiri buah belimbing yang akan dibeli. Langsung memetik dari pohonnya. Asyik, kan? Melihat puluhan buah belimbing yang bergelantungan manja di dahan-dahan pohon, membuat air liur ini tak henti-hentinya tertelan paksa. Suasana di kebun belimbing ini benar-benar sejuk segar dan… menggiurkan. Glekk..!! Bahkan, terkadang pemilik kebun berbaik hati mempersilahkan jika ada pengunjung yang ingin mencicipi buah belimbing langsung dari pohonnya. Gratis lagi. Jika ada pengunjung yang ingin menikmati segarnya rujak buah, juga bisa. Sambil duduk santai, menikmati semilir angin kebun yang memabukkan. Dijamin, mereka yang datang ke kebun ini pasti betah berlama-lama menghabiskan waktunya.

Tapi, tetap ada hal yang disayangkan. Miris rasanya jika melihat ada buah belimbing yang busuk di dahan. Buah belimbing memang jenis buah yang sangat rentan terhadap serangan lalat buah, kumbang, ataupun ulat penggerek. Serangga-serangga buah itu akan menyuntikkan telur ke dalam jaringan buah. Setelah menetas, telur serangga itu akan menjadi larva yang hidup di dalam jaringan daging buah. Pada tahap lebih lanjut, keadaan ini mengakibatkan masuknya bakteri pembusuk hingga seluruh jaringan daging buah akan mengalami kerusakan. Karena itu, buah belimbing mutlak memerlukan pembungkusan untuk meminimalisir serangan dari segala macam serangga buah itu. Pembungkusan dapat berupa bahan mulai dari plastik, kertas, sampai ke pembungkus daun.

Dalam hal ini, petani-petani di kebun belimbing Desa Ngringinrejo telah cukup pintar dengan membungkus buah-buah belimbingnya menggunakan plastik putih bening. Tapi sebenarnya mereka membutuhkan lebih dari itu. Sistem irigasi secara lancar dan melimpah dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas buah belimbing yang ditanam. Karena, dengan asupan air yang cukup memadai, maka kualitas buah yang dihasilkan dapat tumbuh dengan lebat, berukuran jumbo, dan memiliki rasa manis tentunya. Khususnya, pengaturan irigasi di musim kemarau harus benar-benar dipertimbangkan.

Selain itu, untuk menghindari resiko buah busuk di dahan sebelum dimanfaatkan, ada baiknya jika para petani dan warga sekitar desa diberi pelatihan yang bermanfaat untuk mampu menciptakan hasil olahan buah belimbing yang lebih bernilai jual.

Coba kita tengok Kota Malang yang menjadi ikon sebagai Kota Apel. Mereka memiliki perkebunan buah apel khas malang, dimana para pengunjung dapat menikmati buah apel dalam berbagai tampilan. Bisa berupa buah segar itu sendiri, maupun berupa makanan olahan dari buah apel tersebut. Seperti camilan ringan, meliputi keripik apel, kerupuk apel, dodol apel, hingga minuman sari apel.

Sebenarnya, Bojonegoro bisa belajar banyak hal dari Kota Malang. Meniru strategi pemasaran yang digunakan untuk memperkenalkan hasil perkebunan secara luas, tanpa takut terkena resiko buah busuk selama pendistribusiannya. Petani-petani di kebun belimbing Desa Ngringinrejo bisa menciptakan produk olahan baru dari buah belimbing, seperti “Keripik Buah Bintang”. Makanan ringan dengan bahan dasar buah belimbing yang dipotong menyerupai bintang segi lima, kemudian dikeringkan dan diolah menjadi keripik buah. Atau, bisa juga menciptakan olahan air sari belimbing, dengan menginformasikan khasiat dan kandungan dari minuman itu bagi kesehatan tubuh.

wisata belimbing bojonegoroHasil olahan ini nantinya dapat diperjualbelikan sebagai pilihan oleh-oleh bagi para pengunjung di sekitar kebun belimbing maupun di luar Kabupaten Bojonegoro. Tentu saja dalam hal ini dibutuhkan kerjasama antar sesama pemilik perkebunan belimbing. Lalu, bagaimana caranya?

Para pemilik perkebunan bisa membentuk suatu serikat atau paguyupan yang menaungi segala tindak-tanduk usaha perkebunanan ini. Dari sini, mereka bisa saling mengkoordinasikan pembagian tugas mulai dari proses produksi, proses pendistribusian, hingga kegiatan promosi atau pengenalan produk secara luas. Dengan pembentukan suatu serikat, tidak ada ketimpangan maupun perasaan saling dirugikan dengan adanya persaingan yang tidak sehat antar sesama pemilik perkebunan belimbing. Bukankah dengan bersatu kita akan menjadi teguh? Bahkan tidak menutup kemungkinan dari komoditi buah belimbing ini, Kabupaten Bojonegoro dapat meningkatkan pendapatan daerahnya. Menjadi lebih dikenal sebagai penghasil buah bintang. “Bojonegoro Bintangnya Buah Bintang”. (Nurul Fitriandari)

Baca Juga Dari Penulis

Comments

Loading...