Bojonegoro, Berkah Banjir dan Lumbung Pangan

Bojonegoro, jadi salah satu daerah lumbung pangan andalan di Provinsi Jawa Timur. Dan, Provinsi Jawa Timur jadi andalan penyuplai padi tertinggi secara nasional. Dari kawasan rawan banjir, Bojonegoro kini berubah menjadi daerah dengan sebutan lumbung pangan.

Bojonegoro menjadi salah satu kabupaten unggulan dalam hal penyerapan beras dan gabah di Provinsi Jawa Timur tahun 2016. Kabupaten yang berbatasan dengan Jawa Tengah ini, masuk empat besar produksi beras/gabah bersama Banyuwangi, Jember dan Lamongan.

Data di Sub-Divisi Regional (Divre) Bulog Bojonegoro, masuk dirangking kedua dari 13 Sub-Divre yang membawahi 38 kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur. Rangking pertama serapan tertinggi, yaitu Sub-Divre Surabaya Utara dengan serapan 88.003 ton gabah kering panen. Kedua Sub-Divre Bojonegoro sebanyak 78.994 ton gabah dan urutan ketiga yaitu Sub-Divre Jember sebanyak 64,358 ton gabah—data terhitung pertanggal 15 Mei 2016.

Sementara dari segi produktifitas, Bojonegoro juga masuk empat besar penyuplai gabah di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini mampu menghasilkan gabah sebesar 907.000 ton pertahunnya. Menariknya, produksi gabah sebesar itu, lebih dari 55 persennya berasal dari 16 kecamatan—dari 28 kecamatan—yang areal sawahnya berasal dari Sungai Bengawan Solo. Misalnya di Kecamatan Kalitidu, Trucuk, Malo, Padangan, Kasiman Kanor dan sebagian Ngraho.

Padahal, enam-tujuh tahun silam, sebagian besar areal persawahan di pinggir Sungai Bengawan Solo tidak bisa dikelola. Jika musim hujan, menjadi langganan banjir luapan sungai. Begitu juga, jika musim kemarau, sebagian besar areal persawahan juga kering—terutama di Bojonegoro bagian selatan. Minimnya kantung-kantung air, seperti embung, irigasi dan sungai cepat mengering.

Tahun 2010 Bupati Suyoto mencanangkan program 1000 embung. Selain itu, juga di bangun tanggul, irigasi dan bendungan di sekitar sungai. Hasilnya, banjir mulai tertanggulangi. Dari kawasan banjir, Bojonegoro, kini menjadi daerah lumbung padi dan andalan Jawa Timur dengan produksi sebesar 6,36 juta ton gabah pertahunnya.

lumbung pangan bojonegoro

Menurut Bupati Bojonegoro Suyoto, produksi gabah sebesar 907.000 ton bisa ditingkatkan mencapai satu juta ton pertahunnya—daerah surplus. Untuk mengejar produksi sebesar itu, Pemerintah Bojonegoro membangun embung (bendungan kecil) dan ditargetkan ada di desa-desa kategori rawan kekeringan. Selain itu, juga dibangun Bendung Gerak—Bendungan yang berada di tengah-tengah Sungai Bengawan Solo—di antara Kecamatan Trucuk dan Kalitidu.

Program yang lebih besar lagi, yaitu tengah dirampungkan Waduk Gongseng yang menghabiskan lahan sekitar 46 hektare di Dusun Gangseng, Desa Kedungsari dan Dusun Kalimati, Desa Papringan Kecamatan Temayang. Waduk berlokasi sekitar 35 kilometer arah selatan Kota Bojonegoro, diproyeksikan mampu menampung 22 juta meterkubik. Waduk Gongseng, yang difungsikan menopang Waduk Pacal di Kecamatan Temayang, yang mengalami pendangkalan dan hanya mampu menampung air kurang dari 28 juta meterkubiknya.

Pemerintah Bojonegoro beralasan, jika daerah bisa memperbanyak kantung-kantung air, akan segera terwujud sebagai kabupaten lumbung pangan Nasional. Tentu saja produksi gabah dengan target sebesar satu juta ton pertahun, cepat terealisasi.”Kita bangga dengan lumbung pangan,” ujar Kang Yoto, panggilan Suyoto.

Baca Juga Dari Penulis

Comments

Loading...