“Bojonegaran” Bukan Jonegoroan

Yth. Bapak Suyoto, Bupati Bojonegoro, Kiranya Bapak dalam keadaan sehat dan sukses menjalankan aktivitas. Gelisah membaca pernyataan resmi di mana-mana dengan dampaknya yang luas tentang istilah Jonegoroan (misal Batik Jonegoroan dan lain-lain), dengan ini saya warga Bojonegoro yang “cupet” ilmu pengetahuan bahasa Jawa, menyampaikan secara kaidah “paramasastra” yang benar adalah Bojonegaran, bukan Jonegoroan.

Banyak ahli paramasastra Jawa ini yang dapat diminta bantuan untuk membahas dan meluruskan tentang penggunaan istilah yang tidak sesuai kaidah bahasa ini. Demikian juga untuk istilah Jonegoro yang menggelisahkan banyak pegiat sastra di Bojonegoro.

Nama-nama ahli bahasa Jawa itu misalnya Bpk Sumarno, pensiunan guru bahasa Jawa SPGN Bojonegoro, dan para muridnya yang banyak menjadi aktivis PSJB (Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro) seperti Bpk Djajoes Pete, Bpk. NonoWarnono Psjb, Bpk Yusuf Susilo Hartono dan para aktivis PSJB lain (Bpk. Jfx Hoeri, dll) (keempat nama tersebut peraih Hadiah Sastra Rancage, Penghargaan sastra daerah/ Jawa), Bpk Gampang Prawoto (Peraih Hadiah Sastra Jawa Timur)

Mohon kiranya dapat di bahas tentang penggunaan yang benar untuk istilah JONEGOROAN dan juga JONEGORO itu (yang benar BOJONEGARAN dan BOJONEGORO), untuk mencegah pengaruhnya secara kaidah bahasa yang banyak berpengaruh secara luas dalam pembinaan budaya dan bahasa.

Demikian komentar dari Bpk @Djajoes Pete di groups (FB PSJB) Karena kemerosotan pendidikan bahasa Jawa, banyak terjadi salah kaprah oleh ketidaktahuan menurut ilmu ilmu bahasa yang benar. Bahkan para pejabat pun, di mana-mana, salah pula menggunakananya oleh ketidaktahuannya.

Rumusananya, nama kota atau nama orang, yang konsonan akhirnya “O” beruban menjadi “AN”, Contoh :
Suroboyo – Surabayan
Surokarto – Surakartan
Perang Diponegoro – Perang Diponegaran
Mangkunegoro – Mangkunegaran

Ora Surakarta pun tak ada yang menhyebut (Mangkunegoroan). Dengan rumusan menurut paramasastra iku, Bojonegoro seharusnya Bojonegaran bukan Bojonegoroan.

Demikian komentar dari Bpk. Jfx Hoeri di groups (FB PSJB) Mendukung apa yang disampaikan mas Yo. Saya kaged piagam resmi juga menggunakan kata JONEGORO.

Ingkang leres BOJONEGARAN, awit nami resminipun BOJONEGORO. Mboten wonten JONEGORO, JONEGOROAN, BOJONEGOROAN.

Demikian komentar dari Bpk. di groups FB PSJB: NonoWarnono Psjb Budaya “latah” yang menyebabkan munculnya istilah-istilah tanpa “paugeran paramasastra”. Reproduksi bahasa yang demikian menjadi sesuatu yang salah kaprah dan berefek ganda.

Terimakasih atas perhatian Bpk. Bupati. Semoga semakin sukses memimpin Bojonegoro. Salam, Yonathan Rahardjo Warga Kelurahan Kadipaten.

Baca Juga Dari Penulis

Comments

Loading...