Belajar dari Kyai Samin Hidup Jujur dan Anti Kekerasan

Dusun Jipang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim), tetap mengedepankan kebersamaan, kejujuran, kesederhanaan dan anti kekerasan, pada era keterbukaan ini. Warga yang dikenal menolak membayar pajak dan menjual hasil bumi kepada pemerintahan penjajahan Belanda dan Jepang pada saat itu, masih mengajarkan, jangan mengambil apa pun yang bukan miliknya.

Pemimpin komunitas Samin, Hardjo Kardi dalam percakapan dengan SP, belum lama ini di rumahnya mengatakan, masyarakat Samin, selalu membantu dalam keadaan dan sesulit apa pun. Ketika masa penjajahan Belanda dan Jepang, komunitas yang didirikan Suro Sentiko itu dengan kompak tidak membayar pajak, tidak mau menjual hasil bumi serta tak bersedia bekerja sama dengan kaum penjajah. Meskipun penjajah melakukan kekerasan kepada Wong (orang) Samin, tetapi masyarakat setempat melakukan perlawanan tanpa gejolak. Melalui cara tadi, akhirnya pemerintahan penjajahan mundur teratur meninggalkan Margomulyo.

“Mengapa saat itu Wong Samin, menolak membayar pajak pada Belanda dan Jepang,” tanya SP.

“Mosok pajek sing dibayar pribumi tapi duite digowo londo. Yo kebacut jenenge (Masak pajak yang dibayar pribumi, tetapi uangnya dibawa Belanda. Ya itu keterlaluan namanya),” jawab Hardjo Kardi, menggunakan bahasa Jawa. Hardjo, merupakan generasi keempat yang berusia 82 tahun, dari keturunan Suro Sentiko, pendiri Samin, asal Randu Belatung, Blora, Jawa Tengah (Jateng).

Dusun Jipang berada di tengah hutan yang kala itu sulit dijangkau. Dusun ini berada di perbatasan Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Ngawi, Jatim. Tetapi secara administratif, masuk wilayah Bojonegoro. Jarak dari Bojonegoro menuju Jipang, 70 kilometer. Menuju ke daerah itu, jalanan sudah beraspal. Namun saat ini sebagian sudah diganti menggunakan paving.

Menurut Hardjo, Wong Samin, sebelumnya belum mengetahui bahwa Indonesia telah diproklamirkan Soekarno dan Moh Hatta, sebagai negara merdeka dan berdaulat, pada 17 Agustus 1945. Untuk meyakinkan hari kemerdekaan itu, utusan komunitas ini kemudian menghadap langsung Bung Karno di Jakarta.

Setelah mengetahui Indonesia merdeka, mereka resmi membayar pajak bumi dan bangunan (PBB) kepada pemerintahan yang sah. Sampai sekarang bisa dilihat, bahwa masyarakat Samin, taat membayar PBB bahkan sampai 100 persen. Jadi, Wong Samin, tidak melawan pemerintah, tetapi melalukan perlawanan kepada pemerintah kolonial, dengan tanpa kekerasan.

Saminisme
Saminisme yang diajarkan oleh Suro Sentiko, mengajarkan kepada pengikutnya tentang kebersamaan, kejujuran, kesederhanaan dan anti kekerasan. Samin itu sendiri artinya sami-sami (sama-sama) amin, kebersamaan dan kegotongroyongan. Para pengikut Samin, begitu patuh pada ajarannya. Karena itu, di Dusun Jipang, dari dulu sampai sekarang aman dari segala bentuk pencurian dan kekerasan.

Hal lain terhadap sifat kegotongroyongan, manakala ada di antara komunitas Samin, menderita sakit, maka perkumpulan meminjami sejumlah uang. Ketika pinjaman dikembalikan, tidak disertai bunga. Karena mereka tidak mengenal bunga uang yang dipinjamkan.

Pemuka Samin, selalu mengajarkan kepada para pengikutnya agar jangan menyakiti orang lain. Saling hormat-menghormati sesama manusia di dunia, dan jangan pernah mengambil apa pun yang bukan haknya. Di samping itu, pengikut Samin diajarkan tidak berbuat kejahatan dan kekerasan.

Agar komunitas tetap utuh, setiap malam Jumat Legi (manis), mereka berkumpul, mendengarkan petuah-petuah dari pemuka Samin. Dalam acara tersebut juga dibahas mengenai berbagai hal yang terjadi pada bulan sebelumnya.

Menjawab pertanyaan tentang pengikut Samin, yang tidak patuh terhadap ajaran itu, Hardjo menyatakan, yang bersangkutan akan dikucilkan dari komunitas itu.

Komunitas Samin, terbuka bagi siapa saja. Ketika mengunjungi dusun ini, masyarakat setempat menerima dengan baik. Di dusun itu hanya terdapat sekolah dasar (SD). Selepas SD, biasanya melanjutkan sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah lanjutan atas (SMA) ke Bojonegoro, Ngawi atau di ibu kota kecamatan.

Setelah lulus sekolah, banyak putra-putri Samin, bekerja di pemerintahan. Di antaranya, putra dari Hardjo, menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan kepolisian. Bahkan banyak pula yang mendapatkan jodoh dari luar komunitas ini.

Jumlah orang Samin di Dusun Jipang sebanyak 100 kepala keluarga (KK) atau sekitar 250 jiwa. Menurut putra bungsu dari tujuh bersaudara keluarga Hardjo, Bambang Sutrisno, mata pencarian komunitas ini sebagian besar adalah petani. Mereka menanam jenis tanman palawija, di antaranya jagung, atau singkong ditanam di sela-sela tanaman kayu jati milik Perhutani.

Para petani Samin, diberi kebebasan menanam palawija oleh Perhutani secara cuma-cuma. Upaya itu dilakukan agar mereka turut mengawasi tanaman jati, supaya tidak dijarah oknum yang tidak bertanggungjawab.

Meskipun jumlah pengikut Samin terus berkurang, tetapi ajaran tentang kebersamaan, kejujuran, kesederhanaan dan anti kekerasan, akan terus ditaati para pengikutnya, karena ajaran tentang kebaikan tadi, bisa digunakan sepanjang masa.

Oleh : Teguh L Rahmadi/WBP

Baca Juga Dari Penulis

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.