Anggota DPRD Bojonegoro Diduga “Siluman”

pendopo malowopatiSelama ini tingkat kehadiran anggota Dewan menjadi Sorotan. Tetapi sebagai Anggota Dewan, tidak kehabisan Akal. Kalau ada yang mengatakan anggota dewan banyak akalnya, mungkin ada benarnya. Salah satu akal bulusnya adalah menggunakan joki absen. Mereka seolah-olah hadir dalam rapat padahal di buku daftar hadir diisi oleh orang lain. Inilah fenomena yang terjadi di DPRD Bojonegoro. Dibilang tidak hadir, nyatanya ada (tanda tangannya), dibilang ada, nyatanya tidak ada. Seperti fenomena makhluk siluman, sebagaimana ditampilkan di film-film horor China.

Sebagaimana kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya terjatuh juga. Begitulah kira-kira gambaran yang terjadi di DPRD Kabupaten Bojonegoro. Para anggota Dewan yang membolos, dan menitipkan tanda tangan, akhirnya ketahuan juga. Badan Kehormatan (BK), terpaksa (sungguh terpaksa) menindaklanjuti perilaku anggota dewan, setelah mendapat desakan dari masyarakat.

Memang sangat ironis, bila anggota dewan malas menghadiri sidang atau rapat. Kita tidak pernah habis pikir. Hampir sebagian besar kerja-kerja anggota dewan adalah sidang, rapat dan hal-hal sejenisnya. Tetapi begitulah kenyataannya. Alasannya bisa bermacam-macam. Barangkali kurang menarik, bagi mereka, bagi anggota dewan, duduk terpaku, termenung, mendengarkan orang berpidato. Sangat menjemukan. Bila ini alasannya, ibarat anak sekolah, salah jurusan.

Saat Panen Raya

Ketidakhadiran anggota dewan semacam ini, dalam berbagai kasus, terkadang tidak semata karena rasa malas. Bisa saja, adanya kesibukan yang luar biasa pentingnya. Kegiatan tersebut lebih memberikan keuntungan, sangat logis dan terukur. Misalnya dengan menjadi pelaksana proyek (dibawah tangan), sulit untuk ditinggalkan. Karena bisa berjalan di luar kontrol yang mengakibatkan kerugian, atau keuntungannya menjadi kecil.

Posisi sebagai anggota dewan sangat memungkinkan, untuk mendapatkan proyek-proyek pemerintahan. Proyek seperti ini, bisa diatasnamakan orang lain. Istilah yang umum yang sering digunakan: berbedara CV orang lain. Tetapi sejatinya, pelaksana di lapangan adalah sang anggota dewan itu sendiri. Anggota dewan, sudah mengidentifikasi dan mengawal proyek yang dincar, sejak rencana pengusulan, pembahasan sampai penentuan pelaksana proyek. Lolos atau tidaknya sebuah proyek, dapat saja dijadikan ajang tawar menawar.

Karena kesibukannya untuk melaksanakan, mengawasi dan mengkordinasi proyek, inilah yang memungkinkan, membuat kesibukan sangat meningkat. Kehadiran di gedung DPRD untuk rapat, sidang dan lain sebagainya, dapat dinomorduakan. Mereka berpikir, titip tandatangan pun tidak masalah. Beres. Uang kehadiran, tetap diterima.

Ada pikiran bahwa setelah menjadi anggota dewan adalah saatnya panen raya. Apapun yang bisa dipanen, kalau memungkinkan dipanen pula. Pada saat musim pemilu, adalah musim bekerja. Dengan jerih payah, banting tulang, menggaet massa sebanyak-banyaknya agar menjadi anggota dewan. Uang dan segala pengorbanan pada saat pemilu, telah terkuras sedemikian rupa. Apa salahnya, bila masa panen ini, sekedar menikmati jerih payah yang pernah dilakukan. Mengapa harus dipaksa, duduk tersiksa mendengarkan pidato-pidato, yang baginya tidak menarik.

Barangkali yang tidak disadari, ada pemahaman yang telah berkembang bahwa apapun kinerja anggota dewan di ruang sidang, tidak turut mempengaruhi perolehan suara nantinya. Istilah mereka “Nggak Ngaruh”. Bisa jadi, ocehan para LSM, yang disampaikan “berbusa-busa”, menjadi bahan tertawa bagi mereka. Nggak ngaruh. Karena, para anggota dewan sudah pengalaman dari pemilu ke pemilu dan menjadi biang penggaet massa.

Baca Juga Dari Penulis

Comments

Loading...