Ada Ikan Bakar di Waduk Pacal

waduk pacal bojonegoroRencana liburan bersama teman tercinta, tidak musti merogoh kocek dalam-dalam. Apalagi bagi mereka yang masih makan bangku sekolah atau kuliah. Bukan perkara mewah atau selangit fasilitas kelas atas, melainkan kebersamaan yang lebih diutamakan. Intinya dimanapun jadi. Yang terpenting happy.

Kami memilih lokasi yang cukup dekat, bisa ditempuh dengan sepeda motor, lebih irit dan yang pasti cocok lah buat nampang narsis, hukumnya wajib diabadikan.

Setelah ada kesepakatan antara beberapa anak perempuan, kami baru menghubungi anak laki-laki. Biasanya anak laki-laki selalu ada alasan yang sering mengecewakan dan membuat batal acara. Nah akhirnya trik tersebut berhasil juga. Di hari yang ditentukan kami akan siap tertawa gembira, melepas penat dan tugas-tugas kuliah.

Sesuai kesepakatan, kami berniat bakar ikan ditepi Waduk Pacal. Kuranglebih 25 km selatan kota Bojonegoro. Tepatnya di kecamatan temayang, jalur Bojonegoro-Nganjuk. Bisa ditempuh dengan bis atau sepeda motor. Namun kalau menggunakan bis, lama dan masuk lokasi waduk yang cukup jauh, 3 km. Anak perempuan yang dengan sukarela membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bakar ikan. Saya membawa nasi dan lalapan. Enik membawa ikan dan arang. Tika membawa bumbu-bumbu dan pemanggang ikan. Ita membawa minum dan snack. Serta andik yang bertugas membawa tikar. Hemms Andik yang rumahnya dekat dengan lokasi tak apalah diminta tolong seperti itu, toh diantara anak laki-laki Andik yang paling nurut. Hehehe bukan niat ngerjain sich… Kok bawa ikan dari rumah??? Sebenarnya di Waduk Pacal ini diijinkan untuk memancing juga, namun dari pada menunggu ikan pancingan yang lama, dan belum tentu dapat banyak maka kami putuskan bawa dari rumah.

Akhirnya, 2 jam perjalanan dari kota Bojonegoro sampailah kami di lokasi. Hemms Waduk Pacal. Meski udara tidak begitu sejuk dan dingin, setidaknya itu sudah mampu mendinginkan otak kami. Kami lalu hunting lokasi ditepi waduk yang dibangun belanda pada tahun 1934. Hemms di sini sering dijadikan lokasi favorit muda-mudi memadu kasih dan tempat rekreasi keluarga. Terutama musim liburan. Saat kami datang untung bukan musim liburan. Yach, meski harus mengusir sepasang muda-mudi yang tak enak dengan kedatangan rombongan kami, akhirnya pasangan romantis itu meninggalkan kami dengan sendirinya.

Anak laki-laki bertugas menyiapkan perapian. Kami hanya menunggu dan berfoto-foto narsis seraya menyantap snack. Sayang kalau gak ada kamera. Setelah sekian lama asap yang membubul tinggi menebarkan aroma ikan bakar keseluruh arah. Tak heran ini dijadikan lahan wisatawan lain berkomentar iri kepada kami. Huhh… Gelak tawa. Lepas. Puas. Bebas. Eith tapi harus tetap jaga kesopanan ditempat umum ya…!!

Akhirnya, waktunya makan. Nasi, ikan bakar, lalapan dan sambel tomat nian nikmat mengisi kerongkongan dan lalu terjun ke perut. Hemms… Inilah indahnya kebersamaan yang murah namun berkesan. Usai makan, kami hanya menikmati segala anugrah tuhan yang maha kuasa, terimakasih ya Allah. Eitchh… Waktunya berberes, dan ingat, jangan buang sampah sembarangan. Sayangilah lingkungan disekitar kita. Penting banget ini.

Teman kami, pilud lalu menghubungi seorang juru kemudi speedboat. Kami semua mengelilingi waduk selama lebih dari 30 menit dengan tarif Rp 5.000 per orang. Hemms… Di sepanjang tepi waduk banyak orang yang memancing, bahkan hingga magrib. Kami benar-benar senang, bercanda diatas speedboat serta berfoto-foto.

Usai berkeliling pun, kami memutuskan untuk pulang dan mengakhiri kebersamaan kali ini. Liburan gak harus mahal dan jauh, yang penting kita menikmati dan otak kembali fresh. Right?? Selamat berlibur…!!

by. Astutik

Baca Juga Dari Penulis

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.